Obat TBC di Apotik

By | September 7, 2016

Obat TBC di Apotik

Obat TBC di Apotik Ampuh Cepat dan Aman Tanpa Efek Samping. Sembuhkan TBC secara total dari akarnya. Keluhan hilang, fungsi pernafasan makin meningkat. Apa ya nama produknya ? silakan langsung berkunjung ke obat tbc resep dokter

Cara Mengatasi TBC Secara Medis

Obat TBC di Apotik

TBC atau Tuberkulosis ialah penyakit paru yg diakibatkan oleh bactery. Tuberkulosis, yg dalam bahasa awam disebut dengan “plek paru” merupakan penyakit multisistemik dengan bentuk klinis yg bermacam-macam. Tuberkulosis ialah faktor penyebab terumum kematian di seluruh dunia terkait dengan penyakit menular. Penyakit tersebut menjadi lebih semakin meningkat di seluruh belahan dunia khususnya di negara berkembang. Selain itu, prevalensi TB resistan (tidak mempan) terhadap obat pula meningkat di seluruh dunia. Ketidakmempanan obat antibiotik terhadap TBC diakibatkan adanya koinpeksi dengan virus human immunodepiciency (HIV) yg kini semakin menyebar luas. Maka, rejimen deteksi dini HIV & TBC saling silang, yaitu, pasien yg terserang TBC wajib dicek HIV, & pasien yg terserang HIV wajib buat dicek TBC. buat pembahasan HIV sendiri dibahas tersendiri

Faktor penyebab TBC

Faktor penyebab plek paru tersebut ialah kumanMycobacterium tuberculosis, yg berbentuk batang (basil) tahan asam. Bactery tersebut terjikang “bandel” sebab tak sekedar bersarang di paru-paru, tapi pula di organ-organ lain selain paru-paru, mulai dari selaput otak sampai tulang.

Gejala Penyakit TBC

Perlu ditekankan bahwa tanda & tanda TBC anak & dewasa itu sungguh berbeda.

Pada anak, tak perlu ada batuk, tapi jika serumah atau ada riwayat terpapar orang yg TBC, & anak ini mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan napsu makan, demam nglemeng selama 2 minggu, maka sebaiknya dilakukan uji tesmantouksdi Puskesmas terdekat.

Sedangkan di orang dewasa, gambaran klinis klasik terkait dengan TB paru aktip ialah sebagai berikut:

  • Batuk
  • Berat badan/ anoreksia
  • Demam
  • Keringat malam
  • Hemoptisis/ batuk darah
  • Sakit dada (pula bisa hasil dari perikarditis akut tuberkulosis)
  • Kelelahan

Selain di paru-paru, TB dapat “menyeabr” ke organ lain seperti selaput otak, disebut dengan meningitis TB, ke tulang yg disebut dengan Penyakit Pott, ke organ saluran kemih, ke sendi, & sebagainya. perkara tersebut bergantung dari daya tahan & kecepatan penegakan diagnosis antar pasien.

Tanda meningitis TB mungkin termasuk yg berikut:

  • nyeri kepala intermiten atau terus-menerus selama 2-3 minggu
  • Perubahan status mental ringan yg bisa berlanjut ke koma selama periode hari hingga hitungan minggu
  • Demam yg tak terlalu tinggi

Tanda TB tulang, yg disebut dengan penyakit Pott:

  • Sakit punggung atau kekakuan punggung
  • Kelumpuhan anggota gerak bawah bawah, sebanyak setengah dari pasien dengan penyakit Pott tak terdiagnosis
  • Arthritis tuberkulosis, biasanya hanya melibatkan 1 sendi (terkerap pinggul atau lutut, diikuti oleh pergelangan kaki, siku, pergelangan tangan, & bahu)

Tanda TB genitourinari mungkin termasuk yg berikut:

  • Sakit pinggang
  • Disuria
  • kerap buang air kecil
  • Pada lelaki, massa skrotum menyakitkan, prostatitis, orchitis, epididimitis atau
  • Pada perempuan, tanda seperti penyakit radang panggul

Tanda TB gastrointestinal yg merujuk ke situs yg terinpeksi & mungkin termasuk yg berikut:

  • Nonhealingbisul di mulut atau anus
  • Kesusahan menelan (dengan penyakit esopagus)
  • Sakit perut meniru penyakit ulkus peptikum (dengan inpeksi lambung atau duodenum)
  • Malabsorpsi (dengan inpeksi usus halus)
  • Sakit, diare, atau hematochejia (dengan inpeksi usus besar)

Jika memang ditemukan tanda-tanda ini, segera periksakan diri ke dokter. Nantinya, dokter bakal memeriksa melalui serangkaian anamnesis (wawancara) maupun pemeriksaan pisik. Temuan pemeriksaan pisik yg terkait dengan TB tergantung di organ yg terlibat. Pasien dengan TB paru mungkin mempunyai gejala berikut:

  • Napas tak normal terdengar, terutama lobus atas atau daerah yg terlibat
  • Rales atau bronkial napas tanda-tanda, mengindikasikan konsolidasi paru

Tanda-tanda TB paru berbeda sesuai dengan jaringan yg terlibat & mungkin termasuk yg berikut:

  • Penurunan kesadaran sampai koma
  • Depisit neurologis
  • Chorioretinitis (radang di retina mata)
  • Limpadenopati
  • Lesi kulit

Tidak adanya temuan pisik yg signipikan tak dan merta menyingkirkan adanya suatu TB aktip. Semakin baik imunitas atau daya kekebalan tubuh, justru tanda & tanda cenderung semakin terlihat. tapi, semakin buruk atau lemahnya kekebalan tubuh, justru tanda & tanda dapat tak muncul. perkara tersebut justru yg membahayakan, sebab kerapkali TBC telah muncul dalam derajat yg lebih berat. Pasien yg cenderung mempunyai kekebalan tubuh lemah ialah pasien-pasien HIV, pasien yg sedang menjalani kemoterapi, pasien kencing manis.

Diagnosis Penyakit TBC

Metode skrining buat TB ialah sebagai berikut:

  • Tes kulit tuberkulinMantouksdenganpuripied protein derivative(PPD) buat inpeksi aktip atau laten (metode utama)
  • Memeriksa dahak pasien di pasien dengan tanda batuk. Pengecatan Basil tahan asam (BTA) & kultur bactery: Hasil pengecatan yg negatip tak dan merta menyingkirkan diagnosis TB; Kultur BTA ialah tes yg terspesipik buat TB
  • Serologi HIV di semua pasien dengan TB & status HIV tak diketahui: Individu terinpeksi HIV berada di peningkatan resiko buat TB
  • Rontgen dada buat melihat gambaran paru di pasien TBC.

Apabila hasil kultur bactery tadi positip ada bactery TBC, maka mesti diikuti dengan uji antibiotik apa yg cocok buat TBC yg diderita pasien ini. tapi, biasanya tes tersebut dilakukan tapi penanganan TB lini pertama tak mempan sehingga pasien dikategorikan ke dalam pasien yg gagal penanganan lini pertama.

Sedangkan bila lesi terdapat di luar paru, maka pemeriksaannya lebih kompleks lagi yaitu melipti:

  • Biopsi sumsum tulang, hati, atau kultur darah
  • jika meningitis TB atau tuberculoma dicurigai, melakukan pungsi lumbal
  • Bila vertebral (penyakit Pott) atau keterlibatan otak diduga, CT atau MRI diperlukan
  • Jika keluhan seputar genitourinari, bisa dilakukan pemeriksaan urin rutin & kultur urin

Perawatan Pasien TBC

Tindakan yg bisa dilakukan:

  • Idealnya, pasien TB disolasi pasien di sebuah kamar dengan tekanan negatip
  • memakai masker sekali pakai yg cukup buat menyaring basil
  • Lanjutkan isolasi hingga BTA negatip selama 3 kali berturut-turut pemeriksaan dahak (biasanya sesudah sekitar 2-4 minggu penanganan)
  • Rejimen penanganan TB mempunyai beberapa kategori & lini. buat kasus TB pertama kali, penanganan TB dilakukan selama 6 bulan. penanganan empiris dimulai dengan rejimen 4-obat isoniajid, ripampisin, pirajinamid, & etambutol atau streptomisin. Terapi tersebut bakal disesuaikan menurut hasil uji kerentanan & toksisitas. perempuan hamil, anak-anak, pasien yg terinpeksi HIV, & pasien yg terinpeksi dengan strain yg resistan terhadap obat membutuhkan rejimen yg berbeda.
  • penanganan propilaksis ialah penanganan yg diberikan di pasien yg belum tegak diagnosis TB-nya, tetapi mempunyai potensi buat tertular. Contohnya, ibu hamil yg serumah dengan suami yg TB, atau anak kecil yg orangtuanya tinggal serumah & tertular TB.

Pertimbangan khusus buat terapi obat di ibu hamil meliputi berikut ini:

  • Di Amerika Serikat, pirajinamid dicadangkan buat perempuan yg diduga TB-MDR
  • Streptomisin sebaiknya tak dipakai
  • penanganan propilaksis dianjurkan selama kehamilan
  • perempuan hamil yg mengonsumsi isoniajid bakal mengalami keracunan di organ hati (hepatotoksik)
  • Menyusui bisa dilanjutkan selama terapi propilaksis

Pertimbangan khusus buat terapi obat di anak-anak antara lain sebagai berikut:

  • Kebanyakan anak dengan TB bisa diatasi dengan isoniajid & ripampisin selama 6 bulan, bersama dengan pirajinamid buat 2 bulan pertama, tergantung juga dengan hasil kultur kumannya.
  • Untuk TB sesudah kelahiran, durasi penanganan bisa ditingkatkan hingga 9 atau 12 bulan
  • Etambutol kerap dijauhi di anak-anak sebab epeknya buat mengganggu indera pengelihatan
  • Ada pertimbangan khusus buat terapi obat di pasien terinpeksi HIV berupa penyesuaian dosis & rejimen obat yg dipilih.

Problem utama dalam penanganan TB ialah lamanya penanganan sehingga tingkat kepatuhan pasien cenderung berkurang. perkara tersebut yg memicu resistensi kuman sehingga antibiotik awal tak mempan. Pasien yg mengalami resistensi disebut kasus MDR-TB. buat kasus MDR-TB, penanganan bakal jauh lebih susah, dengan durasi yg lebih lama, tingkat mortalitas yg lebih tinggi, & obat tak sekedar dikonsumsi, tetapi ada juga obat suntiknya.

Vaksin TB baru kini sedang diteliti mengingat TB kini semakin menyebar luas di dunia. Penyebarluasan TB tersebut sebab peningkatan kasus HIV & ketidakpatuhan pasien dalam mekonsumsi obat TB. (dr. Ursula Penny)

baca juga :

Obat TBC di Apotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *